Scenes from A Coffee House

PRE-SCRIPT*:
Sebuah kisah yang tiba-tiba terbersit setelah membaca Notes seorang teman di f.jpg dan komentar sahabat saya tersayang atas tulisan itu: “Is this an end or just a beginning of a ‘new chapter’ in your story nduk?”

Tibalah saya di depan sebuah restoran, beberapa menit lewat dari jam satu siang. Seorang pelayan menyambut dengan ramah. Saya memberitahunya bahwa seseorang di dalam sudah menunggu. Si pelayan ini langsung mempersilakan saya masuk.

Dan saya menemukannya. Duduk seorang diri di salah satu meja terluar. Sedang menekuri buku menu ditemani segelas minuman yang sudah tersaji di hadapannya. Entah sudah berapa lama sebenarnya ia menunggu. Ia mengangkat kepalanya begitu saya tiba di dekat mejanya. Lalu berdiri.

Tersenyum sumringah, membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk saya.

Erat sekali.

Saya membalas pelukannya. Sesaat merasa bimbang, apakah harus mengakhirinya segera atau membiarkannya yang akan melepas nantinya. Berusaha tidak mempedulikan saja tatapan risih orang-orang di sekeliling. Namun sebelum sempat saya menjatuhkan pilihan tentang apa yang harus dilakukan, ia pun akhirnya melepas pelukan itu.

“How are you?” tanya saya. Setelah akhirnya kami duduk di kursi masing-masing.

Ia menghela napas.

baca selengkapnya di: dudukBERSILA


About this entry