Saya Ingin Bercerita
Langit di luar mulai gelap. Senja sudah berlalu sejak tadi. Tapi kendaraan roda empat masih saja memadati jalan. Juga yang beroda dua. Seolah tak menyisakan lagi sedikit pun celah antara dua kendaraan itu. Asap tebal yang mengepul dari mereka tak lagi tampak, pekatnya malam sudah membungkusnya.
Barisan orang-orang saling berdesakan. Berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka pulang. Orang-orang yang mungkin di kala hari baru bermula pagi tadi, masih rapi dengan pakaian yang juga masih licin. Tatanan rambut terbaik dengan aroma wangi, yang mungkin tidak lagi ditemukan kala mereka sudah berjajar di tepi trotoar seperti ini. Sekarang sudah tidak lagi peduli dengan seperti apa tampilan mereka.
Sepatu hak tinggi sudah berganti sandal jepit yang lebih nyaman dan tak menyengsarakan betis. Sepatu pantovel juga berganti sandal yang sama, agar tak menyulitkan saat harus berlari mengejar bus kota. Tak peduli lagi betapa pakaian mereka sudah terlipat sana-sini, akibat menyandang tas di bahu kanan dan menjinjing tas lain di tangan yang satu lagi.
Dan perempuan ini, mestinya ia pun bergabung dengan mereka. Bersama-sama mengikuti rutinitas setelah jam kerja berakhir.
Namun ia sedang lelah.
Ia sedang tidak ingin menjalani keseharian yang biasa ditemuinya. Dan lebih memilih untuk melangkahkan kaki ke kedai kopi langganannya, berniat menghabiskan malamnya di sana.
baca selengkapnya di: dudukBERSILA
About this entry
You’re currently reading “Saya Ingin Bercerita,” an entry on the backpack
- Published::
- 5.7.09 / 10am
- Category:
- dudukBERSILA
- Tags:
Comments are closed
Comments are currently closed on this entry.