Terpuaskan

Hari itu akhirnya saya berniat untuk melaksanakan apa yang sudah ditekadkan sejak beberapa minggu silam. Saya akan beranjak dari rumah lebih pagi dari biasanya, karena sebelum menuju ke kantor, saya harus menyempatkan diri untuk mampir (mudah-mudahan hanya sebentar) ke bank.

Sejak memperoleh penghasilan sendiri (dengan jumlah yang sangat lumayan!) selama beberapa bulan terakhir dari proyek sampingan yang saya kerjakan, saya mulai berpikir untuk membuka rekening tabungan baru. Saya sudah harus mulai mengatur keuangan saya sendiri, salah satunya adalah dengan memisahkan ‘biaya hidup’ dengan ‘biaya senang-senang’. Yah.. saya sadar betul betapa saya ini boros dan sangat buruk dalam perencanaan, termasuk merencanakan pengeluaran. Dan dengan buruknya saya dalam merencanakan sesuatu, ditambah lagi dengan menggabungkan kedua biaya itu dalam satu tempat penyimpanan, saya sudah bisa menduga bencana apa yang sangat mungkin terjadi.

Karena itulah, sehari sebelumnya saya sudah meminta ijin kepada si bos agar keesokan harinya saya diijinkan untuk datang lebih siang, karena harus mengurus pembukaan rekening baru itu tadi.

Selasa pagi, saya melesatkan si hitam ke kawasan Cikini, yang terbilang cukup dekat dari kantor. Sehingga, kalaupun saya terlambat datang, tidak akan sampai mendekati waktu istirahat siang. Saya memilih Bank Mandiri di Cikini ini dengan alasan yang sangat sederhana. Selain karena letaknya yang strategis, gedungnya pun tidak terlalu besar, sehingga bisa diperkirakan antrian nasabah juga tidak akan terlalu banyak.

Setelah memarkirkan si hitam di bagian belakang, dengan berjalan kaki saya menuju ke bagian depan gedung itu. Hanya membawa kunci si hitam, dompet, dan si beybih. Setibanya di bagian depan, saya menemukan seorang petugas keamanan (baca: satpam) berdiri tepat sebelum tangga yang akan membawa saya ke pintu depan gedung itu.

baca selengkapnya di: dudukBERSILA


About this entry