Badai Pasti Berlalu

Baru menginjakkan kaki di lantai satu East Mall Grand Indonesia, saya langsung dikejutkan dengan apa yang saya temukan di sana. Begitu banyak orang yang ada di sana membuat saya bertanya-tanya sendiri, sedang ada acara apa sebenarnya. Dan pertanyaan itu semakin menjadi, kala saya melangkahkan kaki menuju atrium. Sebagian besar orang dengan siapa saya berpapasan, mengenakan pakaian dan dandanan yang sangat rapi.

Yang pria mengenakan kemeja batik mengilap lengan panjang, celana pantalon, dan sepatu pantovel. Sementara yang wanita, dengan riasan di wajah, dihiasi asesoris di sana-sini, dengan high heels, dan tentunya pakaian yang sangat menawan. Membuat saya nyaris kehilangan fokus pandangan, karena sepertinya semua begitu menarik perhatian.

Lalu saya mematut diri saya sendiri, saat kebetulan melintasi dinding bercermin.

Mengenakan kaos putih tipis, celana jeans, flat sandals, dan rambut yang dicepol seadanya. Dan sekali lagi, mencermati orang-orang di sekeliling saya. Luar biasa kontrasnya. Masih bagus saya mengurungkan niat untuk mengenakan celana pendek tadi. Kalau tidak, bisa-bisa semua orang akan mengernyitkan dahi karena melihat saya yang salah berpakaian.

Dengan langkah pelan, saya berjalan lebih jauh. Semakin terlihatlah apa yang ada di tengah atrium. Sebuah panggung berukuran sedang, dikelilingi oleh jajaran kursi yang berlapis kain putih mengilap. Pembatas berupa tiang-tiang rendah yang disambungkan satu sama lain dengan rantai berukuran besar juga diletakkan di belakang barisan terakhir dari jajaran kursi itu.

Di antara kerumunan, saya mulai mengenali wajah-wajah mereka. Sebagian besar di antaranya seringkali saya temukan mondar-mandir di layar kaca, atau juga layar lebar. Orang-orang yang memikul kamera tampak di mana-mana, mengikuti ke mana perginya orang-orang terkenal itu. Dan sejurus dengan tempat di mana saya menemukan mereka, sebuah tulisan besar di panggung tertangkap oleh mata saya.

baca selengkapnya di: dudukBERSILA


About this entry